Kamis, 28 Mei 2015

KURIKULUM SMA TAHUN 2013
Tujuan
1. Tujuan Pendidikan Nasional
2. Tujuan Institusional
3. Tujuan Kurikuler
4. Tujuan Instruksional
Prinsip Pengembangan
Prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip efektivitas, prinsip pendidikan seumur hidup, prinsip berkelanjutan, serta berorientasi pada tujuan.
Ruang Lingkup
1.      Siswa(objek yang menjadi sasaran dari pelaksanaan kurikulum yang dilakukan oleh guru);
2.      Guru (sebagai seorang pendidik yang melaksanakan apa yang tertulis dan termuat dalam kurikulum);
3.      Sekolah;
4.      Tim pengembang kurikulum

Posisi Mata Pelajaran Sejarah
Posisi mata pelajaran sejarah pada SMA sudah berdiri sendiri (Separated). Dalam struktur kurikulum 2013 sejarah masuk dalam mata pelajaran kelompok A atau kelompok mata pelajaran wajib.
Tiap minggu dalam 1 jam pelajaran membutuhkan 45 menit, dalam tabel diatas sejarah dalam seminggu sejarah mendapatkan waktu 2x45 menit. Dalam struktur kurikulum SMA/MA ada penambahan jam belajar per minggu sebesar 4-6 jam sehingga untuk kelas X bertambah dari 38 jam menjadi 42 jam belajar, dan untuk kelas XI dan XII bertambah dari 38 jam menjadi 44 jam belajar.


Metode
Dalam penyampaian Metode di SMU berdasarkan Pendekatan Penguasaan materi (content oriented) dan menggunakan metode Competency based ( berbasis kompetensi). Maksudnya lebih menekankan pada materi pelajaran atau isi .
Penilaian
            Pada kurikulum ini cara evaluasinya yaitu proses pembelajaran menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis tes dan portofolio saling melengkapi.
Kelebihan dan Kekurangan
            kelebihan dari kurikulum 2013 adalah setiap anak atau siswa dituntut kreatif dan inovatif,selain itu ada juga yang namanya pengembangan karakter yang telah diintegrasikan kedalam semua program studi.
            Kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, kurikulum 2013 tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.
Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013. Pemerintah melihat seolah-olah guru dan siswa mempunyai kapasitas yang sama.



Minggu, 17 Mei 2015

Tugas 8 (Resensi Buku Tentang Kecerdasan Otak)

IDENSTITAS BUKU
JUDUL           : ESQ (Emotional Spiritual Quotient) ‘Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual
PENULIS        : Ary Ginanjar Agustian
PENERBIT      : Arga
TAHUN          : 2001
HALAMAN      : 410
ISBN             : 978-979-13286-3-0
UKURAN      : 23 cm
ISI YANG PENTING/MENARIK
SINOPSIS           
Buku ini menunjukkan bahwa nilai-nilai ajaran islam dapat diaktualisasikan dalam kehidupan modern dan dapat menjawab tantangan zaman, baik dalam hal pembangunan SDM, leadership, maupun manajemen yang selama ini seolah jauh dari persoalan agama. Ini sekaligus membuktikan bahwa islam selalu sesuai dalam setiap ruang dan waktu untuk mewujudkan perbaikan sebagai rahmatan lil alamin.
            Buku ini menghantarkan kita pada satu titik yang agung dan mulia yaitu menjadi hamba Allah SWT yang berprestasi, unggul, dan yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Perpaduan ruh dan jasad dalam diri manusia memantulkan “diri” (nafs) yang memiliki kecenderungan ganda kepada kebaikan dan keburukan. Jadi diri ini perlu diatasi dengan upaya peningkatan kecerdasan spiritual.
            Untuk menjadi orang yang sukses, tidak hanya dibutuhkan kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, tidak hanya berorientasi pada hubungan antar manusia semata tapi juga didasarkan pada hubungan manusia dengan Penciptanya.
            ESQ Way 165 adalah sebuah paradigma baru yang menyinergikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam satu kesatuan yang utuh. Buku ESQ Way 165 ini membahas rasionalitas dunia melalui kacamata spiritualitas.
Buku mega-bestseller ini adalah karya pertama dan terbesar dari DR HC Ary Ginanjar Agustian, sosok yang ingin memperbaiki bangsa ini telah terjual lebih dari 1,3 juta eksemplar. Beberapa pendapat yang memberikan tanggapan mengenai buku ini:
1.      "Buku ESQ memberi pencerahan dan mudah dicerna dalam melakukan transformasi keislaman dari tekstual ke kontekstual, dan dari sebuah ide menuju operasional. Ary telah menempatkan Islam secara adil dan proporsional dan menegakkan kembali Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin." --HM Rozy Munir, PBNU
2.      "Generasi sekarang sedang menghadapi permasalahan kronis, yaitu tidak terintegrasinya antara otak dan hati. Buku ini adalah langkah signifikan yang mengintegrasikan akal dan emosi dalam praktik kehidupan, bahkan menyertakan pula unsur spiritual sehingga terjadi integrasi IQ, EQ, dan SQ. Saya berharap akan terjadi suatu perubahan revolusioner, khususnya dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Buku ini tentu adalah sebuah karya dan kajian yang ditulis melalui perpaduan akal yang jernih dan kemurnian hati." --Prof DR HA Syafii Maarif, Muhammadiyah
3.      "Ada tiga syarat utama menjadi eksekutif atau entrepreneur yang berhasil, yaitu knowledge, skill, dan attitude. Bagian tersulit dari ketiganya adalah attitude, dan ESQ telah berhasil menaklukkannya dalam waktu yang singkat, dengan hasil yang luar biasa. Subhanallah." --Muhammad Syafii Antonio, PhD, pakar ekonomi syariah.
BAHASA PENGARANG
Bahasa dalam buku ini menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga  mudah dipahami oleh pembaca atau dengan kata lain pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dapat dipahami langsung oleh pembaca.

KEUNGGULAN
Keuggulan dari buku ini adalah mampu memberikan banyak  informasi tentang kecerdasan emosi dan juga spiritual secara mendalam melalui pendekatan agama. Dalam buku ini telah diuraikan contoh-contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memungkinkan pembaca untuk lebih memahami dan membuat pembaca ketagihan untuk membacanya berulang-ulang.
KELEMAHAN
Kelemahan dalam buku ini yaitu adanya pembahasan tentang kecerdasan emosi dan spiritual mengenai pendekatan agama  yang terlalu banyak, sehingga membuat pembaca yang non muslim merasa ada pembedaan. Sehingga menjurus pada kepentingan agama yang mayoritas atau dianut penulis.
KESIMPULAN
Buku ini layak di baca karena telah memberikan istilah-istilah sederhana yang mudah dipahami mengenai kecerdasan emosional dan spiritual. Bagaimana membangun kecerdasan emosional dan spiritual berdasarkan rukun iman dan rukun islam serta makna yang terkandung didalamnya. Selain pembaca menerima pesan yang berhubungan dengan duniawi, juga menerima pesan mendalam yang berhubungan dengan pesan akhirat dari penulis. Bagi pembaca yang membutuhkan dorongan dan motivasi spiritual, buku ini sangat cocok untuk mengembangkan kecerdasan yang mungkin perlu dipupuk melalui pendekatan-pendekatan yang mudah dipahami.



Tugas 7 (Teori Belajar Konstruktivisme)

TEORI KONTRUKTIVISME
1.        Definisi Teori Kontruktivisme
Teori kontruktivisme memrupakan teori pembelajaran yang bersifat generatif yaitu tindakan mencipta suatu makna dari apa yang sudah dipelajari. Teori ini memahami belajar sebagai kegiatan siswa atau manusiadalam membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Hasil belajar merupakan tujuan yang dianggap penting, tapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga penting.
Dengan demikian belajar menurut teori kontruktivisme bukan sekedar menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan melalui pengalaman. Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:
·                     Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
·                     Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaan yang diajukan.
·                     Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
·                     Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
·                     Lebih menekankan pada proses belajar.
Salah satu teori terkenal yang berkaitan dengan teori kontruktivisme yaitu teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa disebut dengan teori perkembangan intelektual atau perkembangan kognitif. Setiap perkembangan yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkontruksi ilmu pengetahuan. Misalnya dalam tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan. Selanjutnya Piaget menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Yang dimaksud asimilasi disini adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan akomodasi adlah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru.
Kontruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang mengemukakan bahwa siswa dalam mengkotruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial yang kemudian disebut dengan kkontruktivisme sosial. Ada dua konsep penting dalam teori vygotsky yaitu Zone Of Proximale Development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkakt perkembangan potensial. Yang kedua yaitu Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, memberi contoh, dan tindakan lain yang memungkinkan siswa untuk belajar mandiri.
2.        Ciri-ciri Kontruktivisme
a)    Memberi peluang pada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.
b)   Menggalakkan ide dikhususkan untuk siswa dan menggunakakn sebgai panduan pengajaran.
c)    Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil sikap dan pembawaan murid.
d)   Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar suatu ide.
e)    Menegakkan dan menerima daya usaha dan autonomi murid.
f)    Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid dan guru.
g)   Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
h)   Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
3.      Prinsip-prinsip kontruktivisme
a)      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
b)      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk bernalar.
c)      Murid aktif mengkontruksi secara terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
d)     Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses  kontruksi berjalan lancar.
e)      Menghadpai masalah yang relevan dengan siswa.
f)       Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
g)      Mencari dan menilai pendapat siswa.
h)      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan atau pendapat siswa.
Siswa harus membangun pengetahuan dalam benaknya sendiri. Seorang guru bisa membantu dengan cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna bagi siswa. Dan dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
4.      Hakikat belajar menurut kontruktivisme
Menurut teori belajar ini, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya siswa harus aktif secar mental dalam membangun struktur pengetahuan berdasarkan tingkat kematangan kognitif yang dimiliki.
Tasker menekankan teori belajar dalam tiga aspek, yaitu
-           peran aktif siswa dalam mengkontruksi pengetahuan secara bermakna.
-           Pentingnya meembuat kaitan antara gagasan dalam pembangunan secara bermakna.
-          Mengaitkan gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar kontruktifisme Tytler mengajukan beberapa saran untuk rancangan pembelajaran:
-          Memberi kesempatan pada siswa untuk mengemukakan gagasan dengan bahasa sendiri.
-          Memberi kesempatan pada siswa untuk berpikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
-          Memberi kesempatan pada siswa mencoba gagasan baru.
-          Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang dimiliki siswa.
-          Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.
-          Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandnagan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu pada teori belajar kontruktifisme lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman. Dengan kata lain siswa lebih diutamakan untuk mengkontruksi sendiri pengetahuan melallui asimilasi dan akimodasi.
5.      Kelebihan dan kelemahan Kontruktifisme
a)      Kelebihan
-          Berpikir. Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berpikir untuk menyeleseikan masalah, membuaut ide dan keputusan.
-          Faham. Oleh karena murid terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.
-          Ingat. Mereka akan lebih lama mengingat semua konsep dan lebih yakin menghadapi atau menyelesaikan masalah dalam situasi baru karena terlibat secara langsung.
-          Kemahiran. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru.
-          Seronok. Oleh karena terlibat secara terus maka mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat maka mereka berasa semangat belajar.
b)      Kelemahan
Dalam teori ini kelemahan yang bisa terlihat yaitu dalam proes belajar dimana peran seorang guru sebagai pendidik kurang begitu mendukung.


Tugas 6 (Teori Belajar Humanistik)

TEORI HUMANISTIK


A. Konsep Teori belajar Humanistik
 Teori belajar Humanistik yaitu proses memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu. Teori Humanistik menekankan kognitif dan afektif memengaruhi proses. Kognitif adalah aspek penguasaan ilmu pengetahuan sedangkan afektif adalah aspek sikap yang keduanya perlu dikembangkan dalam membangun individu. Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Hal yang penting lagi pada proses pembelajaran Humanisme harus adanya motivasi yang diberikan agar peserta didik dapat terus menjalani pembelajaran dengan baik. Motivasi dapat berasal dari dalam yaitu berasal dari diri sendiri, maupun dari guru sebagai fasilitator.
B. Karakteristik Teori Humanistik (Suprayogi, 2005)
- Mementingkan manusia sebagai pribadi.
- Mementingkan kebulatan pribadi.
- Mementingkan peranan kognitif dan afektif.
- Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan self concept.
- Mementingkan persepsual subjektif yang dimiliki tiap individu.
- Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri.
- Mengutamakan insight (pengetahuan/pemahaman).
C. Prinsip teori Humanistik
1. Manusia memiliki kemampuan alami untuk belajar.
2. Belajar menjadi signifikan apabila apa yang dipelajari memiliki   relevansi dengan keperluan mereka.
3. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya.
4. Tugas belajar dapat lebih diterima dan diasimilasikan apabila ancaman dari luar itu semakin kecil.
5. Bila ancaman itu rendah terdapat pengalaman siswa dalam memperoleh cara.
6. Belajar yang bermakna diperoleh jika siswa melakukannya.
7. Belajar lancar jia siswa dilibatkan dalam proses belajar.
8. Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat memberi hasil yang mendalam.
9. Kepercayaan pada diri siswa ditumbuhkan dengan membiasakan untuk mawas diri.
10. Belajar sosial adalah belajar mengenai proses belajar.
D. Implementasi terhadap Pembelajaran
Dalam teori Humanistik Guru bertindak sebagai Fasilitator, sehingga disini guru mempunyai banyak tugas diantaranya :
1. memberi perhatian dan motivasi
2. membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum
3. Memahami karakteristik siswa
4. mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar
5. Dapat menyesuaikan dirinya bersama siswanya
6. Berbaur dengan siswanya, berkomunikasi dengan sangat baik bersama siswanya
7. Dapat memahami dirinya dan tentunya agar dapat memahami siswanya
8. Dalam penerapan teori belajar humanistik proses lebih diutamakan daripada hasil, dimana proses dari penerapan teori belajar humanistik antara lain :
9. Merumuskan tujuan belajar yang jelas
10. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
11. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
12. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri.

E. Tokoh-tokoh teori humanistik
1. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang.
(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Berkaitan dengan pendapat tersebut Maslow mengemukakan adanya 5 tingkatan kunci kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Karena sesungguhnya dalam teori humanistik ini sangat diperlukannya motivasi. 5 tingkatan tersebut antara lain :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4nSdkzsC141aap5u0PTKvDloEo5DR6kX0I9ayMYgSPJ4XKZtl_0j89dIsVr0qt1sCjoBDJqt1_60SZUpHotsSM1Udg6WMnGtMnNe8bTtq0aTvUcANXvrSTbG1oc_zZLbuA8H8ytdZNlA/s320/teori+abraham+maslow.jpg
2. Carl Sam Rogers
Carl Sam Rogers mengemukakan Kebutuhan individu ada 4 yaitu : (1) pemeliharaan, (2) peningkatan diri, (3) penghargaan positif (positive regard) dan (4) Penghargaan diri yang positif (positive self-regard).
Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
3. Arthur Combs
Arthur mengemukakan bahwa Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka.Untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. Pernyataan ini adalah salah satu dari pandangan humanistik mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan, dan tujuan tingkah laku inner (dari dalam) yang membuat orang berbeda dengan orang lain. untuk mengerti orang lain, yang terpentng adalah melihat dunia sebagai yang dia lihat, dan untuk menentukan bagaimana orang berpikir, merasa tentang dia atau dunianya 
F. Kelebihan dan kekurangan Teori Humanistik
Kelebihan :
- Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
- Siswa merasa senang, berinisiatif dalam belajar.
- Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa.
- Siswa mempunyai banyak pengalaman yang berarti.
- Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
- Indikator dari keberhasilan aplikasi ini ialah siswa merasa senang dan bergairah.
- Terjadinya perubahan pola pikir.
- Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara tanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang-orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin, atau etika yang berlaku.
- Siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampu mencapai aktualisai diri dengan sebaik-baiknya.
Kekurangan :
- Bersifat individual.
- Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yang mendukung.
- Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis.
- Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.
- Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar.
- Siswa tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar.
- Peran guru dalam proses pembentukan dan pendewasaan kepribadian siswa menjadi berkurang.
- Keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh siswa itu sendiri.
Referensi:
http://whendikz.blogspot.com/2013/11/resume-teori-belajar-humanistik.html


Tugas 5 (Teori Belajar Behavioristik)

TEORI BEHAVIORISTIK
Teori bahavioristik merupakan teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahab tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman. Kemudian teori berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang memberikan pengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik belajar dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik yang menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah ThorndikeWatsonClark HullEdwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
Teori Belajar Menurut Watson
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).
Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Analisis Tentang Teori Behavioristik
Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang memengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
·         Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
·         Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
·         Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons