Kamis, 18 Juni 2015


MAKALAH


TEORI BELAJAR PEMBELAJARAN DALAM PROGRAM PENDIDIKAN SEJARAH DAN EVALUASI PEMBELAJARAN BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM
(diajukan guna memenuhi tugas Akhir Semester Belajar Pembelajaran Kelas I)





Oleh

Mei Linda Asifah (140210302050)





PROGAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
FAKULTAS KEDOSENAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat taufik dan hidayah-Nya sehinnga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya tanpa halangan suatu apapun.  Makalah ini ditulis dengan judul “Teori Belajar Pembelajaran Dalam Program Pendidikan Sejarah Dan Evaluasi Pembelajaran Berdasarkan Taksonomi Bloom” yang membahas tentang teori pembelajaran yang diterapkan dlam pendidikan sejarah, termasuk masalah yang timbul dan evaluasi pembaruan dari taksonomi bloom tentang pembelajaran.
Tidak lupa ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berperan serta membantu  dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan baik bagi penulis sendiri maupun pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik serta saran sangat diharapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya untuk perbaikan pembuatan makalah selanjutnya. 


                                                                                                Jember, 18 Juni 2015
                       
                                                                                                Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB 1. PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1         Latar Belakang.............................................................................................. 2
1.2         Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3         Tujuan Makalah............................................................................................ 2
1.4         Manfaat Makalah.......................................................................................... 2
BAB 2. KAJIAN PUSTAKA................................................................................. 3
BAB 3. PEMBAHASAN........................................................................................ 5
.3.1 Teori belajar yang digunakan dalam program pendidikan sejarah Universitas Jember. ......................................................................................................... 5
3.1.1Teori Kontruktivisme.............................................................................. 5
3.1.2 Teori Behaviorisme................................................................................ 8
3.2  Permasalahan yang terjadi dalam belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah. ..................................................................................... 10
3.2.1 Permasalahan dalam Belajar Mengajar.............................................. 11
3.2.2 Dampak Yang Timbul Dari Permasalahan Sarana Dan Prasarana Pendidikan....................................................................................... 13

3.3  Evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah menurut teori Bloom. ....................................................................................................... 14
BAB 4. PENUTUP............................................................................................... 17
4.1 Simpulan......................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 18



1.2 Latar Belakang

Akhir-akhir ini seringkali ditemui berbagai macam persoalan dalam keberhasilan belajar. Mulai dari persoalan dalam lingkup kecil maupun sampai keakarnya yang banyak sekali memunculkan paradigma-paradigma baru mengenai teori belajar dan pembelajaran dalam pendidikan. Setiap jenjang pendidikan dalam kurikulum tertentu dijelaskan mengenai teori belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Baik jenjang sekolah dasar, sekolah menengah maupun perdosenan tinggi. Dalam perguruan tinggi sendiri telah mengenal berbagai macam teori yang dijelaskan dalam suatu mata kuliah .
Belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap, sebagai akibat dari latihan. Program studi Pendidikan Sejarah merupakan salah satu program studi yang terdapat di Universitas Jember Fakultas Kependidikan dan  Ilmu Pengetahuan. Dalam pembelajaran yang berlangsung telah digunakan beberapa teori belajar, yaitu percampuran antara teori belajar behavioristik dan kontruktivisme. Jadi selain behavioristik, pembelajaran juga menerapkan kontruktivisme sebagai penyeimbang. Walaupun dalam faktanya prosentase menunjukkan pembelajaran sering menerapkan teori kontruktivisme yang mana mahasiswa dituntut untuk aktif dan dosen bukanlah satu-satunya sumber belajar. Terdapat berbagai macam sumber belajar, baik buku, rekan mahamahasiswa, organisasi dan lain sebagainya.
            Makalah ini ditulis dengan judul “Teori Belajar Pembelajaran dalam Program Pendidikan Sejarah dan Evaluasi Pembelajaran berdasarkan Taksonomi Bloom”, yang akan membahas mengenai teori yang digunakan dalam proses belajar mengajar dalam kelas di lingkup program studi Pendidikan Sejarah, permasalahan yang ada dan juga evaluasinya terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu diharapkan agar makalah ini bisa bermanfaat sesuai dengan harapan.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 bagaimana teori belajar yang digunakan dalam program pendidikan sejarah Universitas Jember?
1.2.2 bagaimana permasalahan yang terjadi dalam belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah?
1.2.3 bagaimana evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah menurut teori Bloom?

1.3 Tujuan Makalah

Berdasarkan dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah  yaitu untuk mengkaji lebih dalam tentang:
1.3.1 teori belajar yang digunakan dalam program pendidikan sejarah Universitas Jember.
1.3.2  permasalahan yang terjadi dalam belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah.
1.3.3  evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah menurut teori Bloom.

1.4 Manfaat Makalah

Berdasarkan penulisan makalah manfaat yang dapat diperoleh, yaitu dapat memahami tentang:
1.4.1   proses belajar yang dalam  program studi sejarah Universitas Jember.
1.4.2  permasalahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah.
1.4.3 evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah menurut teori Bloom.


Telah banyak buku yang telah menguraikan tentang taksonomi bloom ataupun evaluasi belajar yang lain. Dalam makalah ini akan memperjelas beberapa isi makalah, buku, skripsi, artikel atau karya ilmiah lainnya yang bertema sama. Yang pertama yaitu buku tentang “sekolahnya manusia”, dibuku ini pembahasan tentang taksonomi bloom dibuat lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.
Ada juga buku karya Suranto dosen sejarah universitas jember tentang “Teori Balajar Kotemporer” yang membahas tentang teori-teori belajar dan pembelajaran masa kini dan berbagai taksonomi para ahli.
         Belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. (Gino, 1988: 5)
Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan oleh lainnya. (Suryabrata, 2001:232)
Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia)
Menurut Dyah Kumalasari (2005:12-13) babhwa setidaknya ada empat komponen yang saling terkait dan menjadi penyebab munculnya masalah dalam pembelajaran sejarah. Apabila kita ingin memperbaiki citra buram dari pembelajaran sejarah disekolah  harus segera dibenahi. (I Gede Widja,1990:1)
Pembenahan metode pembelajaran sejarah tidak sekedar menjadi menjadi pemicu minat belajar, tetapi juga sebagai salah satu instrumen yang  yang berperan memproses anak didik agar mendapat hasil belajar yang baik. (Yoyok Susatyo dan Ady Soejoto,2005:90)
            Menurut Hyslop-Margison & Strobel (2008), kontruktivisme bukanlah teori, tetapi sebuah epistimologi atau penjelasan mengenai sifat pembelajaran. Kontruktivisme tidak mengemukakan bahwa prinsip-prinsip pembelajaran ada dan harus ditemukan serta diuji, tetappi mengetengahkan bahwa siswa menciptakan pembelajaran mereka sendiri.
Kontruktivisme adalah sebuah pendekatan terhadap belajar yang berkeyakinan bahwa orang secara aktif membangun atau membuat pengetahuan sendiri dan realitas ditentukan oleh pengalaman orang itu sendiri.


3.1 Teori belajar yang digunakan dalam program pendidikan sejarah Universitas Jember.
Dalam proses belajar mengajar terdapat teori-teori belajar yang telah diterapkan oleh para pendidik dalam sebuah kelas. Begitupun dalam kelas yang berlangsung dalam pendidikan sejarah, di era modern yang selalu berkembang pesat seringkali dijumpai paradigma-paradigma baru dalam teori belajar. Yang diterapkan dalam pendidikan sejarah tidak hanya teori belajar behaviorisme tapi juga dalam perkembangannya juga diterapkan teori kontruktivisme. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa dua teori tersebut memang berlaku dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya dituntut aktif tapi juga seringkali membutuhkan informasi  dari dosen.

3.1.1 Teori Kontruktivisme
Teori kontruktivisme merupakan teori pembelajaran yang bersifat generatif yaitu tindakan mencipta suatu makna dari apa yang sudah dipelajari. Teori ini memahami belajar sebagai kegiatan mahasiswa atau manusia dalam membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Hasil belajar merupakan tujuan yang dianggap penting, tapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga penting.
               Vygotsky mengemukakan bahwa ada dua konsep penting dalam teori vygotsky yaitu Zone Of Proximale Development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial. Yang kedua yaitu Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada mahasiswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, memberi contoh, dan tindakan lain yang memungkinkan mahasiswa untuk belajar mandiri.
a)      Ciri-ciri Kontruktivisme
-          Memberi peluang pada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.
-          Menggalakkan ide dikhususkan untuk mahasiswa dan menggunakakn sebgai panduan pengajaran.
-          Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil sikap dan pembawaan murid.
-          Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar suatu ide.
-          Menegakkan dan menerima daya usaha dan autonomi murid.
-          Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid dan dosen.
-          Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
-          Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
b)      Prinsip-prinsip kontruktivisme
-          Pengetahuan dibangun oleh mahasiswa sendiri.
-          Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari dosen ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk bernalar.
-          Murid aktif mengkontruksi secara terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
-          Dosen sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses  kontruksi berjalan lancar.
-          Menghadpai masalah yang relevan dengan mahasiswa.
-          Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
-          Mencari dan menilai pendapat mahasiswa.
-          Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan atau pendapat mahasiswa.
Mahasiswa harus membangun pengetahuan dalam benaknya sendiri. Seorang dosen bisa membantu dengan cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna bagi mahasiswa. Dan dengan memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak mahasiswa menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
c)      Hakikat belajar menurut kontruktivisme
Menurut teori belajar ini, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran dosen ke pikiran mahasiswa. Artinya mahasiswa harus aktif secar mental dalam membangun struktur pengetahuan berdasarkan tingkat kematangan kognitif yang dimiliki.
Tasker menekankan teori belajar dalam tiga aspek, yaitu
-          peran aktif mahasiswa dalam mengkontruksi pengetahuan secara bermakna.
-          Pentingnya meembuat kaitan antara gagasan dalam pembangunan secara bermakna.
-          Mengaitkan gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar kontruktifisme Tytler mengajukan beberapa saran untuk rancangan pembelajaran:
-          Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk mengemukakan gagasan dengan bahasa sendiri.
-          Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berpikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
-          Memberi kesempatan pada mahasiswa mencoba gagasan baru.
-          Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang dimiliki mahasiswa.
-          Mendorong mahasiswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka.
-          Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu pada teori belajar kontruktifisme lebih memfokuskan pada kesuksesan mahasiswa dalam mengorganisasikan pengalaman. Dengan kata lain mahasiswa lebih diutamakan untuk mengkontruksi sendiri pengetahuan melallui asimilasi dan akimodasi.
d)     Kelebihan dan kelemahan Kontruktivisme
1.      Kelebihan
-          Berpikir. Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berpikir untuk menyeleseikan masalah, membuaut ide dan keputusan.
-          Faham. Oleh karena murid terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.
-          Ingat. Mereka akan lebih lama mengingat semua konsep dan lebih yakin menghadapi atau menyelesaikan masalah dalam situasi baru karena terlibat secara langsung.
-          Kemahiran. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan dosen dalam membina pengetahuan baru.
-          Seronok. Oleh karena terlibat secara terus maka mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat maka mereka berasa semangat belajar.
2.      Kelemahan
Dalam teori ini kelemahan yang bisa terlihat yaitu dalam proes belajar dimana peran seorang dosen sebagai pendidik kurang begitu mendukung.

3.1.2 Teori Behaviorisme
Teori bahavioristik merupakan teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman. Kemudian teori berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang memberikan pengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik belajar dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik yang menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan dosen kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh dosen tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh dosen (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah ThorndikeWatsonClark HullEdwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.

3.2 Permasalahan yang terjadi dalam belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah.
Pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku/pembentukan pribadi yang terarah pada diri peserta didik (manusia) dalam usaha mendewasakan peserta didik melalui upaya pengajaran dan pelatihan, pendidikan sebagai kegiatan pewarisan budaya, pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara yang berjiwa patriotik, serta pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja, menjadikan pendidikan harus mendapatkan perhatian besar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari sisi pendidikan adalah sarana dan prasarana ppendidikan itu sendiri dimana sarana dan prasarana pendidikan ini merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan program pendidikan dalam proses pembelajaran.
Mutu sarana dan prasarana masih sangat bervariasi. Hal ini dapat kita lihat dilingkungan kita dimana masih banyak sekolah-sekolah yang keadaan gedungnya tidak aman dan kurang memadai untuk digunakan melaksanakan proses belajar mengajar (lembab, gelap, sempit, rapuh). Sering juga dijumpai bahwa lahan/tanah (status hukum) bukan milik sekolah atau dinas pendidikan; letaknya yang kurang memenuhi persyaratan lancarnya proses pendidikan misalnya letak sekolah berada di tempat yang ramai, terpencil, kumuh, dan lain-lain; perabotan berkenaan dengan sarana yang kurang memadai bagi pelaksanaan proses pendidikan misalnya meja/kursi yang kurang layak digunakan, alat peraga yang tidak lengkap, buku-buku paket yang kurang memadai, dan lain-lain.
Di Indonesia sendiri sudah terdapat undang-undang yang berkaitan dengan pengontrolan dan pemeliharaan administrasi pendidikan yang berupa sarana dan prasarana pendidikan. Dengan adanya undang-undang tersebut, diharapkan dapat melindungi administrasi pendidikan dari segala hambatan yang ada. Namun, jika kita melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, sangat jauh dari perhatian pemerintah. Terutama sarana dan prasarana yang banyak tidak sesuai standar atau tidak layak seperti contoh-contoh diatas. Hal inilah yang akan dibahas lebih jauh pada pembahasan berikutnya tentang problematika sarana dan prasarana pembelajaran yang ada di Indonesia.

3.2.1 Permasalahan dalam Belajar Mengajar
1. Fasilitas Yang Minim
Volume sarana dan prasarana yang minim masih mejadi permasalahan utama disetiap sekolah di Indonesia. Terutama di daerah pedesaan yang jauh dari perkotaan. Kasus seperti ini dapat menimbulkan kesenjangan mutu pendidikan. Banyak peserta didik yang berada di desa tidak bisa menikmati kenyamanan dan kelengkapan fasilitas seperti peserta didik di Kota. Oleh karena itu, kualitas pendidikan di desa semakin kalah bersaing dengan kualitas pendidikan di kota. Selain itu masih banyak fasilitas yang belum memenuhi mutu standar pelayanan minimal. Hal seperti ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan kurang memfasilitasi bakat dan minat mahasiswa dalam mengembangkan diri. Akibat ketidak tersedianya fasilitas tersebut, para pelajar mengalokasiakan kelebihan waktunya untuk hal-hal yang negatif.
2. Alokasi dana yang terhambat
Banyaknya kasus penyalahgunaan  dana adminitrasi sekolah, membuat sarana dan prasarana sekolah tidak terwujud sesuai dengan harapan, adanya permainan uang dalam adminitrasi membuat pendidikan semakin tidak cepat mencapai titik kebehasilan.
3.  Perawatan yang Buruk
            Ketidak pedulian dari sekolah terhadap perawatan fasilitas yang ada menjadikan buruknya sarana dan prasarana. Sikap acuh tak acuh dan tidak adanya pengawasan dari pemerintah, membuat banyak fasilitas sekolah yang terbengkalai. Ketidaknyamanan menggunakan fasilitas yang ada, akibat kondisi yang banyak rusak, membuat para pelajar enggan menggunakannya. Kasus seperti ini biasanya terjadi karena tidak adanya kesadaran dari setiap dosen, mahasiswa, dan pendosens sekolah.
        Dari ketiga point di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia masih perlu dibenahi. Banyaknya permasalahan sarana dan prasana akan menghambat proses pembelajaran, yang akibatnya berpengaruh pada ketercapaian dari tujuan pendidikan.
3.2.2 Dampak Yang Timbul Dari Permasalahan Sarana Dan Prasarana Pendidikan
               Dengan keterbatasan sarana dan prasarana tersebut dapat dikatakan bahwa lembaga pendidikan kurang memfasilitasi bakat dan minat mahasiswa dalam mengembangkan diri. Akibat tidak tersedianya fasilitas tersebut para pelajar mengalokasikan kelebihan energinya tersebut untuk hal-hal yang negatif, misalnya tawuran antar pelajar, kelompok-kelompok kriminal yang umumnya meresahkan masyarakat. Setidaknya ada dua dampak dari kurangnya sarana dan prasaranan pendidikan yaitu:
a.   Rendahnya Mutu Output Pendidikan
Kurangnya sarana pendidikan ini berdampak pada rendahnya output pendidikan itu sendiri, sebab di era globalisasi ini diperlukan transormasi pendidikan teknologi yang membutuhkan sarana dan prasaranan yang sangat kompleks agar dapat bersaing dengan pasar global. Minimnya sarana ini menyebabkan generasi muda hanya belajar secara teoretis tanpa wujud yang praksis sehingga pelajar hanya belajar dalam angan-angan yang keluar dari realitas yang sesungguhnya. Ironisnya pemerintah kurang mendukung bahkan cenderung membiarkan tercukupinya fasilitas pendidikan. Kerusakan sekolah, laboratorium, dan ketiadaan fasilitas penunjang pendidikan lainnya menyebabkan gagalnya sosialisasi pendidikan berbasis teknologi ini. Kerusakan sekolah merupakan masalah klasik yang cenderung dibiarkan berlarut-larut dan celakanya lagi hal ini hanya sekedar menjadi permainan politik disaat pemilu saja.
b.      Kenakalan Remaja dan Perilaku yang Menyimpang
Secara psikologis pelajar adalah masa transisi dari remaja menuju kedewasaan dimana didalamnya terjadi gejolak-gejolak batin dan luapan ekspresi kretivitas yang sagat tinggi. Jika lupan-luapan dan pencarian jati diri ini tidak terpenuhi maka mereka akan cenderung mengekspresikanya dalam bentuk kekecewaan-kekecawaan dalam bentuk negatif. Sarana pendidikan yang dimaksud disini, bukan hanya laboratorium, perpustakaan,  ataupun peralatan edukatif saja, tetapi juga sarana-sarana olahraga ataupun kesenian untuk mengekspresikan diri mereka. Kehidupan remaja diera modern ini tentulah berbeda dengan kehidupan pada generasi sebelumnya,  pelajar saat ini membutuhkan ruang gerak dalam pengembangaan kematangan emosi misalanya saja grup band, sepak bola, basket, otimotif dan sebagainya. Jika hal ini tidak dipenuhi ataupun dihambat maka akan cenderung membuat perkumpulan-perkumpulaan yang cenderung menyalahi norma. Di indonesia sendiri masih banyak sekolah ataupun kampus yang tidak memiliki sarana penyaluran emosi ini.

3.3 Evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah menurut taksonomi Bloom.
            Evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah memang harus diadakan evaluasi, agar pembelajaran yang berlangsung selanjutnya bisa meningkatkan kualitas belajar mahasiswa yang berpengaruh besar tehadap hasil belajar.
            Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran sejarah dewasa kini:
(1)   Pembelajaran berpusat pada penguasaan konsep atau hafalan.
(2)   Pembelajaran yang berlangsung cenderung tidak melibatkan pengembangan pengetahuan, karena pendidik selalu mendominasi pembelajaran meskipun ada pembaruan kurikulum.
(3)   Pembelajaran masih bersifat informatif, kurang mengembangkan aspek, nilai, sikap, dan ketrampilan.
(4)   Materi pelajaran yang disajikan kurang berkaitan langsung  dengan kehidupan sehari-hari dan bersifat problematik.
(5)   Jumlah guru sejarah yang tidak mencukupi dengan jumlah jam atau kelas yang tersedia.
(6)   Kinerja guru sejarah yang umumnya masih rendah.
(7)   Latar belakang guru sejarah yang tidak sesuai dengan bidang yang diajarkan.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam memperbaiki anomali-anomali pendidikan ini antara lain:
-          terorganisirnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga daerah terpencil sekalipun sehingga tidak terputusnya komunikasi antara pemerintah pusat dengan daerah.
-          Dengan adanya koordinasi pemerintah pusat dengan pemerintah daerah maka selanjutnya kita dapat meningkatkan Sarana dan Prasarana Pendidikan. Adapun sarana dan prasarana pendidikan yang digunakan dalam rangka meningkatkan output pendidikan tentunya kita harus menaikan cost (harga), menaikkan harga disini maksudnya adalah meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Adapun sarana tersebut meliputi sarana fisik dan non fisik.
1)      Sarana fisik
Pemenuhan sarana fisik sekolahan ini meliputi pembanguan gedung sekolahan, laboratorium, perpustakaan, sarana-sarana olah raga, alat-alat kesenian dan fasilitas pendukung lainnya. Dalam hal ini tentunya pemerintah memegang tanggung jawab yang besar dalam pemenuhan ini, karena pemerintah berkepentingan dalam memajukan pembangunan nasiaonal. Jika sarana belajar ini telah terpenuhi tentunya akan semakin memudahkan transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
2) Sarana non fisik
Sarana non fisik ini diibaratkan software dalam komputer, jika software ini dapat mengoprasikan perangkat komputer dengan baik maka pekerjaan akan cepat selesai. Begitu juga dalam pendidikan jika sistem dan pengajarnya bermutu maka akan mempercepat pembangunan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
a.       Peningkatan kualitas dosen
Kualitas dosen harus ditekankan demi berjalannya pendidikan itu sendiri, tugas dosen adalah merangsang kreativitas dan memberi pengajaran secara fleksibel, artinya berkedudukan seperti mahamahasiswa yang belajar tidak ada patron client. Peningkatan mutu ini bukan hanya pada intelektual dosen saja, melainkan juga mengembangkan psikologis dosen itu sendiri misalnya dengan memahami karakteristik mahamahasiswa, psikologi perkembangan dan sebagainya.Dengan adanya peningkatan ini tentunnya akan berdampak pada membaiknya output pendidikan. Dikarenakan dosen dapat menempatkan dirinya sebagaimana mestinya dan bersifat fleksibel. Kenakalan remaja biasanya terjadi justru karena prilaku dosen itu sendiri misalnya melakukan hukuman fisik kepada mahamahasiswa ataupun penekanan psikologis.
b.      Pembentukan lembaga studi mandiri
Pembentukan lembaga studi mandiri ini berfungsi sebagai wadah pengembangan kpribadian mahasiswa.Jika lembaga studi ini dapat dibentuk tentunnya akan memperbaiki kualitas fakultas maupun menambah pengalaman mahamahasiswa.

BAB 4. PENUTUP

4.1 Simpulan

            Dalam proses belajar mengajar terdapat teori-teori belajar yang telah diterapkan oleh para pendidik dalam sebuah kelas. Begitupun dalam kelas yang berlangsung dalam pendidikan sejarah, di era modern yang selalu berkembang pesat seringkali dijumpai paradigma-paradigma baru dalam teori belajar. Yang diterapkan dalam pendidikan sejarah tidak hanya teori belajar behaviorisme tapi juga dalam perkembangannya juga diterapkan teori kontruktivisme dan yang digunakan yaitu metode pembelajaran diskusi, yang mana hapmpir seluruh mata kuliah mengharuskan mahasiswa berdiskusi secara aktif.
   Mutu sarana dan prasarana pendidikan masih sangat bervariasi. Hal ini dapat kita lihat dilingkungan kita dimana masih banyak sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi yang keadaan gedungnya tidak aman dan kurang memadai untuk digunakan melaksanakan proses belajar mengajar. Sering juga dijumpai bahwa lahan/tanah bukan milik sendiri atau dinas pendidikan; letaknya yang kurang memenuhi persyaratan lancarnya proses pendidikan misalnya letak sekolah berada di tempat yang ramai, terpencil, kumuh, dan lain-lain; perabotan berkenaan dengan sarana yang kurang memadai bagi pelaksanaan proses pendidikan misalnya meja/kursi yang kurang layak digunakan, alat peraga yang tidak lengkap, buku-buku paket yang kurang memadai, dan lain-lain.
Evaluasi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran yaitu pemenuhan sarana fisik  yang meliputi pembangunan gedung, laboratorium, perpustakaan, sarana-sarana olah raga, alat-alat kesenian dan fasilitas pendukung lainnya tiap fakultas atau program studi. Dan juga pemenuhan sarana non fisik yang diibaratkan software dalam komputer, jika software ini dapat mengoprasikan perangkat komputer dengan baik maka pekerjaan akan cepat selesai. Begitu juga dalam pendidikan jika sistem dan pengajarnya bermutu maka akan mempercepat pembangunan nasional.

DAFTAR PUSTAKA


Soeranto. 2015. Teori Belajar dan Pembelajaran Kotemprer. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo.
http://visiuniversal.blogspot.com/2014/03/pengertian-belajar-dan-macam-macam.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom
http://www.slideshare.net/tentotens/2006-taksonomi-bloomdanalatevaluasi