
MAKALAH
TEORI
BELAJAR PEMBELAJARAN DALAM PROGRAM PENDIDIKAN SEJARAH DAN EVALUASI PEMBELAJARAN
BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM
(diajukan
guna memenuhi tugas Akhir Semester Belajar Pembelajaran Kelas I)
Oleh
Mei Linda Asifah (140210302050)
PROGAM STUDI PENDIDIKAN
SEJARAH
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
SOSIAL
FAKULTAS KEDOSENAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat taufik dan hidayah-Nya
sehinnga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya tanpa
halangan suatu apapun. Makalah ini
ditulis dengan judul “Teori Belajar Pembelajaran Dalam Program Pendidikan
Sejarah Dan Evaluasi Pembelajaran Berdasarkan Taksonomi Bloom” yang membahas
tentang teori pembelajaran yang diterapkan dlam pendidikan sejarah, termasuk
masalah yang timbul dan evaluasi pembaruan dari taksonomi bloom tentang
pembelajaran.
Tidak lupa ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang
telah berperan serta membantu dalam
menyelesaikan makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat
untuk perkembangan ilmu pengetahuan baik bagi penulis sendiri maupun pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik serta saran sangat diharapkan. Semoga makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, khususnya untuk perbaikan
pembuatan makalah selanjutnya.
Jember,
18 Juni 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL .............................................................................................i
KATA
PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR
ISI..........................................................................................................iii
BAB 1. PENDAHULUAN...................................................................................
1
1.1
Latar Belakang..............................................................................................
2
1.2
Rumusan Masalah.........................................................................................
2
1.3
Tujuan Makalah............................................................................................
2
1.4
Manfaat Makalah..........................................................................................
2
BAB 2. KAJIAN PUSTAKA.................................................................................
3
BAB 3. PEMBAHASAN........................................................................................
5
.3.1 Teori belajar yang digunakan dalam program
pendidikan sejarah Universitas Jember. .........................................................................................................
5
3.1.1Teori
Kontruktivisme..............................................................................
5
3.1.2
Teori Behaviorisme................................................................................
8
3.2 Permasalahan
yang terjadi dalam belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah.
.....................................................................................
10
3.2.1 Permasalahan dalam Belajar Mengajar..............................................
11
3.2.2 Dampak Yang Timbul
Dari Permasalahan Sarana Dan Prasarana Pendidikan.......................................................................................
13
3.3 Evaluasi
terhadap pembelajaran dalam program studi sejarah menurut teori Bloom.
.......................................................................................................
14
BAB
4. PENUTUP...............................................................................................
17
4.1
Simpulan.........................................................................................................
17
DAFTAR
PUSTAKA..........................................................................................
18
1.2 Latar Belakang
Akhir-akhir ini seringkali ditemui berbagai macam persoalan dalam
keberhasilan belajar. Mulai dari persoalan dalam lingkup kecil maupun sampai
keakarnya yang banyak sekali memunculkan paradigma-paradigma baru mengenai
teori belajar dan pembelajaran dalam pendidikan. Setiap jenjang pendidikan
dalam kurikulum tertentu dijelaskan mengenai teori belajar yang digunakan dalam
proses belajar mengajar. Baik jenjang sekolah dasar, sekolah menengah maupun
perdosenan tinggi. Dalam perguruan tinggi sendiri telah mengenal berbagai macam
teori yang dijelaskan dalam suatu mata kuliah .
Belajar
adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk
memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif
tetap, sebagai akibat dari latihan. Program studi Pendidikan Sejarah merupakan
salah satu program studi yang terdapat di Universitas Jember Fakultas
Kependidikan dan Ilmu Pengetahuan. Dalam
pembelajaran yang berlangsung telah digunakan beberapa teori belajar, yaitu
percampuran antara teori belajar behavioristik dan kontruktivisme. Jadi selain
behavioristik, pembelajaran juga menerapkan kontruktivisme sebagai penyeimbang.
Walaupun dalam faktanya prosentase menunjukkan pembelajaran sering menerapkan
teori kontruktivisme yang mana mahasiswa dituntut untuk aktif dan dosen
bukanlah satu-satunya sumber belajar. Terdapat berbagai macam sumber belajar,
baik buku, rekan mahamahasiswa, organisasi dan lain sebagainya.
Makalah
ini ditulis dengan judul “Teori Belajar Pembelajaran dalam Program Pendidikan
Sejarah dan Evaluasi Pembelajaran berdasarkan Taksonomi Bloom”, yang akan
membahas mengenai teori yang digunakan dalam proses belajar mengajar dalam
kelas di lingkup program studi Pendidikan Sejarah, permasalahan yang ada dan
juga evaluasinya terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu diharapkan agar
makalah ini bisa bermanfaat sesuai dengan harapan.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1 bagaimana teori belajar yang digunakan dalam
program pendidikan sejarah Universitas Jember?
1.2.2 bagaimana permasalahan yang terjadi dalam
belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah?
1.2.3 bagaimana evaluasi terhadap pembelajaran dalam
program studi sejarah menurut teori Bloom?
1.3
Tujuan Makalah
Berdasarkan dengan rumusan masalah diatas, maka
tujuan dari makalah yaitu untuk mengkaji
lebih dalam tentang:
1.3.1 teori belajar yang digunakan dalam program
pendidikan sejarah Universitas Jember.
1.3.2
permasalahan yang terjadi dalam belajar mengajar di program studi
pendidikan sejarah.
1.3.3 evaluasi terhadap pembelajaran dalam program
studi sejarah menurut teori Bloom.
1.4
Manfaat Makalah
Berdasarkan
penulisan makalah manfaat yang dapat diperoleh, yaitu dapat memahami tentang:
1.4.1 proses belajar yang dalam program studi sejarah Universitas Jember.
1.4.2 permasalahan yang terjadi
dalam proses belajar mengajar di program studi pendidikan sejarah.
1.4.3 evaluasi terhadap pembelajaran dalam program
studi sejarah menurut teori Bloom.
Telah
banyak buku yang telah menguraikan tentang taksonomi bloom ataupun evaluasi
belajar yang lain. Dalam makalah ini akan memperjelas beberapa isi makalah,
buku, skripsi, artikel atau karya ilmiah lainnya yang bertema sama. Yang
pertama yaitu buku tentang “sekolahnya manusia”, dibuku ini pembahasan tentang
taksonomi bloom dibuat lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.
Ada juga
buku karya Suranto dosen sejarah universitas jember tentang “Teori Balajar
Kotemporer” yang membahas tentang teori-teori belajar dan pembelajaran masa
kini dan berbagai taksonomi para ahli.
Belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari
tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. (Gino, 1988: 5)
Belajar merupakan proses perbuatan
yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang
keadaannya berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan oleh lainnya. (Suryabrata,
2001:232)
Teori belajar adalah upaya
untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita
memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia)
Menurut Dyah Kumalasari
(2005:12-13) babhwa setidaknya ada empat komponen yang saling terkait dan
menjadi penyebab munculnya masalah dalam pembelajaran sejarah. Apabila kita
ingin memperbaiki citra buram dari pembelajaran sejarah disekolah harus segera dibenahi. (I Gede Widja,1990:1)
Pembenahan metode pembelajaran
sejarah tidak sekedar menjadi menjadi pemicu minat belajar, tetapi juga sebagai
salah satu instrumen yang yang berperan
memproses anak didik agar mendapat hasil belajar yang baik. (Yoyok Susatyo dan
Ady Soejoto,2005:90)
Menurut
Hyslop-Margison & Strobel (2008), kontruktivisme bukanlah teori, tetapi
sebuah epistimologi atau penjelasan mengenai sifat pembelajaran. Kontruktivisme
tidak mengemukakan bahwa prinsip-prinsip pembelajaran ada dan harus ditemukan
serta diuji, tetappi mengetengahkan bahwa siswa menciptakan pembelajaran mereka
sendiri.
Kontruktivisme
adalah sebuah pendekatan terhadap belajar yang berkeyakinan bahwa orang secara
aktif membangun atau membuat pengetahuan sendiri dan realitas ditentukan oleh
pengalaman orang itu sendiri.
3.1 Teori belajar yang digunakan dalam program
pendidikan sejarah Universitas Jember.
Dalam proses belajar
mengajar terdapat teori-teori belajar yang telah diterapkan oleh para pendidik
dalam sebuah kelas. Begitupun dalam kelas yang berlangsung dalam pendidikan
sejarah, di era modern yang selalu berkembang pesat seringkali dijumpai
paradigma-paradigma baru dalam teori belajar. Yang diterapkan dalam pendidikan
sejarah tidak hanya teori belajar behaviorisme tapi juga dalam perkembangannya
juga diterapkan teori kontruktivisme. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa dua
teori tersebut memang berlaku dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya
dituntut aktif tapi juga seringkali membutuhkan informasi dari dosen.
3.1.1 Teori
Kontruktivisme
Teori kontruktivisme merupakan teori
pembelajaran yang bersifat generatif yaitu tindakan mencipta suatu makna dari
apa yang sudah dipelajari. Teori ini memahami belajar sebagai kegiatan mahasiswa
atau manusia dalam membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna
pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Hasil belajar merupakan tujuan yang
dianggap penting, tapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar
juga penting.
Vygotsky
mengemukakan bahwa ada dua konsep penting dalam teori vygotsky yaitu Zone Of
Proximale Development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya
yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan
tingkat perkembangan potensial. Yang kedua yaitu Scaffolding merupakan bantuan
yang diberikan kepada mahasiswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan
tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, memberi contoh, dan
tindakan lain yang memungkinkan mahasiswa untuk belajar mandiri.
a) Ciri-ciri
Kontruktivisme
-
Memberi peluang pada murid membina pengetahuan
baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.
-
Menggalakkan ide dikhususkan untuk mahasiswa
dan menggunakakn sebgai panduan pengajaran.
-
Menyokong pembelajaran secara koperatif
mengambil sikap dan pembawaan murid.
-
Mengambil kira dapatan kajian bagaimana
murid belajar suatu ide.
-
Menegakkan dan menerima daya usaha dan
autonomi murid.
-
Menggalakkan murid bertanya dan
berdialog dengan murid dan dosen.
-
Menganggap pembelajaran sebagai suatu
proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
-
Menggalakkan proses inkuiri murid
melalui kajian dan eksperimen.
b) Prinsip-prinsip
kontruktivisme
-
Pengetahuan dibangun oleh mahasiswa
sendiri.
-
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari
dosen ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk bernalar.
-
Murid aktif mengkontruksi secara
terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
-
Dosen sekedar membantu menyediakan saran
dan situasi agar proses kontruksi
berjalan lancar.
-
Menghadpai masalah yang relevan dengan mahasiswa.
-
Struktur pembelajaran seputar konsep
utama pentingnya sebuah pertanyaan.
-
Mencari dan menilai pendapat mahasiswa.
-
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi
anggapan atau pendapat mahasiswa.
Mahasiswa harus membangun pengetahuan
dalam benaknya sendiri. Seorang dosen bisa membantu dengan cara mengajar yang
membuat informasi menjadi sangat bermakna bagi mahasiswa. Dan dengan memberikan
kesempatan pada mahasiswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan
dengan mengajak mahasiswa menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk
belajar.
c) Hakikat
belajar menurut kontruktivisme
Menurut teori belajar ini, pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran dosen ke pikiran mahasiswa.
Artinya mahasiswa harus aktif secar mental dalam membangun struktur pengetahuan
berdasarkan tingkat kematangan kognitif yang dimiliki.
Tasker
menekankan teori belajar dalam tiga aspek, yaitu
-
peran aktif mahasiswa dalam
mengkontruksi pengetahuan secara bermakna.
-
Pentingnya meembuat kaitan antara
gagasan dalam pembangunan secara bermakna.
-
Mengaitkan gagasan dengan informasi baru
yang diterima.
Dalam upaya mengimplementasikan teori
belajar kontruktifisme Tytler mengajukan beberapa saran untuk rancangan
pembelajaran:
-
Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk
mengemukakan gagasan dengan bahasa sendiri.
-
Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk
berpikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
-
Memberi kesempatan pada mahasiswa
mencoba gagasan baru.
-
Memberi pengalaman yang berhubungan
dengan gagasan yang dimiliki mahasiswa.
-
Mendorong mahasiswa untuk memikirkan
perubahan gagasan mereka.
-
Menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif.
Dari beberapa pandangan tersebut dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu pada teori belajar kontruktifisme
lebih memfokuskan pada kesuksesan mahasiswa dalam mengorganisasikan pengalaman.
Dengan kata lain mahasiswa lebih diutamakan untuk mengkontruksi sendiri
pengetahuan melallui asimilasi dan akimodasi.
d) Kelebihan
dan kelemahan Kontruktivisme
1. Kelebihan
-
Berpikir. Dalam proses membina
pengetahuan baru, murid berpikir untuk menyeleseikan masalah, membuaut ide dan
keputusan.
-
Faham. Oleh karena murid terlibat secara
langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan boleh
mengaplikasikannya dalam semua situasi.
-
Ingat. Mereka akan lebih lama mengingat
semua konsep dan lebih yakin menghadapi atau menyelesaikan masalah dalam
situasi baru karena terlibat secara langsung.
-
Kemahiran. Kemahiran sosial diperoleh
apabila berinteraksi dengan rekan dan dosen dalam membina pengetahuan baru.
-
Seronok. Oleh karena terlibat secara
terus maka mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat maka mereka
berasa semangat belajar.
2. Kelemahan
Dalam teori ini kelemahan yang bisa terlihat yaitu
dalam proes belajar dimana peran seorang dosen sebagai pendidik kurang begitu
mendukung.
3.1.2 Teori
Behaviorisme
Teori bahavioristik merupakan teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman. Kemudian
teori berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang memberikan pengaruh
terhadap arah pengembangan teori dan praktik belajar dan pembelajaran yang
dikenal sebagai aliran behavioristik yang menekankan pada terbentuknya perilaku
yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang
yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimulus dan
respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang
penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Stimulus adalah apa saja yang diberikan dosen kepada pebelajar, sedangkan
respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan
oleh dosen tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.
Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh dosen (stimulus)
dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting
untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain
yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa
prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and
Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of
Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant
Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh
aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya
para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam
pembelajaran.
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat
pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah
laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati,
atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme
sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara
mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut
pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum
belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan
dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan
bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon.
3.2 Permasalahan yang terjadi dalam belajar mengajar
di program studi pendidikan sejarah.
Pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata
laku/pembentukan pribadi yang terarah pada diri peserta didik (manusia) dalam
usaha mendewasakan peserta didik melalui upaya pengajaran dan pelatihan,
pendidikan sebagai kegiatan pewarisan budaya, pendidikan sebagai proses
penyiapan warga negara yang berjiwa patriotik, serta pendidikan sebagai
penyiapan tenaga kerja, menjadikan pendidikan harus mendapatkan perhatian
besar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari sisi pendidikan adalah
sarana dan prasarana ppendidikan itu sendiri dimana sarana dan prasarana
pendidikan ini merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan program
pendidikan dalam proses pembelajaran.
Mutu sarana dan prasarana masih sangat bervariasi. Hal
ini dapat kita lihat dilingkungan kita dimana masih banyak sekolah-sekolah yang
keadaan gedungnya tidak aman dan kurang memadai untuk digunakan melaksanakan
proses belajar mengajar (lembab, gelap, sempit, rapuh). Sering juga dijumpai
bahwa lahan/tanah (status hukum) bukan milik sekolah atau dinas pendidikan;
letaknya yang kurang memenuhi persyaratan lancarnya proses pendidikan misalnya
letak sekolah berada di tempat yang ramai, terpencil, kumuh, dan lain-lain;
perabotan berkenaan dengan sarana yang kurang memadai bagi pelaksanaan proses
pendidikan misalnya meja/kursi yang kurang layak digunakan, alat peraga yang
tidak lengkap, buku-buku paket yang kurang memadai, dan lain-lain.
Di Indonesia sendiri sudah terdapat undang-undang yang
berkaitan dengan pengontrolan dan pemeliharaan administrasi pendidikan yang
berupa sarana dan prasarana pendidikan. Dengan adanya undang-undang tersebut,
diharapkan dapat melindungi administrasi pendidikan dari segala hambatan yang
ada. Namun, jika kita melihat kondisi
pendidikan di Indonesia saat ini, sangat jauh dari perhatian pemerintah.
Terutama sarana dan prasarana yang banyak tidak sesuai standar atau tidak layak
seperti contoh-contoh diatas. Hal inilah yang akan dibahas lebih jauh pada
pembahasan berikutnya tentang problematika sarana dan prasarana pembelajaran
yang ada di Indonesia.
3.2.1
Permasalahan dalam Belajar Mengajar
1. Fasilitas Yang Minim
Volume sarana dan prasarana yang minim masih mejadi
permasalahan utama disetiap sekolah di Indonesia. Terutama di daerah pedesaan
yang jauh dari perkotaan. Kasus seperti ini dapat menimbulkan kesenjangan mutu
pendidikan. Banyak peserta didik yang berada di desa tidak bisa menikmati
kenyamanan dan kelengkapan fasilitas seperti peserta didik di Kota. Oleh karena
itu, kualitas pendidikan di desa semakin kalah bersaing dengan kualitas
pendidikan di kota. Selain itu masih banyak fasilitas yang belum memenuhi mutu
standar pelayanan minimal. Hal seperti ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan
kurang memfasilitasi bakat dan minat mahasiswa dalam mengembangkan diri. Akibat
ketidak tersedianya fasilitas tersebut, para pelajar mengalokasiakan kelebihan
waktunya untuk hal-hal yang negatif.
2. Alokasi dana yang terhambat
Banyaknya kasus penyalahgunaan dana adminitrasi
sekolah, membuat sarana dan prasarana sekolah tidak terwujud sesuai dengan
harapan, adanya permainan uang dalam adminitrasi membuat pendidikan semakin
tidak cepat mencapai titik kebehasilan.
3. Perawatan yang Buruk
Ketidak
pedulian dari sekolah terhadap perawatan fasilitas yang ada menjadikan buruknya
sarana dan prasarana. Sikap acuh tak acuh dan tidak adanya pengawasan dari
pemerintah, membuat banyak fasilitas sekolah yang terbengkalai. Ketidaknyamanan
menggunakan fasilitas yang ada, akibat kondisi yang banyak rusak, membuat para
pelajar enggan menggunakannya. Kasus seperti ini biasanya terjadi karena tidak
adanya kesadaran dari setiap dosen, mahasiswa, dan pendosens sekolah.
Dari ketiga point di atas,
kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sarana dan prasarana pendidikan di
Indonesia masih perlu dibenahi. Banyaknya permasalahan sarana dan prasana akan
menghambat proses pembelajaran, yang akibatnya berpengaruh pada ketercapaian
dari tujuan pendidikan.
3.2.2 Dampak Yang Timbul Dari Permasalahan Sarana Dan Prasarana Pendidikan
Dengan keterbatasan sarana dan prasarana tersebut dapat
dikatakan bahwa lembaga pendidikan kurang memfasilitasi bakat dan minat mahasiswa
dalam mengembangkan diri. Akibat tidak tersedianya fasilitas tersebut para
pelajar mengalokasikan kelebihan energinya tersebut untuk hal-hal yang negatif,
misalnya tawuran antar pelajar, kelompok-kelompok kriminal yang umumnya
meresahkan masyarakat. Setidaknya ada dua dampak dari kurangnya sarana dan
prasaranan pendidikan yaitu:
a. Rendahnya Mutu Output Pendidikan
Kurangnya sarana pendidikan ini berdampak pada
rendahnya output pendidikan itu sendiri, sebab di era globalisasi ini
diperlukan transormasi pendidikan teknologi yang membutuhkan sarana dan
prasaranan yang sangat kompleks agar dapat bersaing dengan pasar global.
Minimnya sarana ini menyebabkan generasi muda hanya belajar secara teoretis
tanpa wujud yang praksis sehingga pelajar hanya belajar dalam angan-angan yang
keluar dari realitas yang sesungguhnya. Ironisnya pemerintah kurang mendukung
bahkan cenderung membiarkan tercukupinya fasilitas pendidikan. Kerusakan
sekolah, laboratorium, dan ketiadaan fasilitas penunjang pendidikan lainnya
menyebabkan gagalnya sosialisasi pendidikan berbasis teknologi ini. Kerusakan
sekolah merupakan masalah klasik yang cenderung dibiarkan berlarut-larut dan
celakanya lagi hal ini hanya sekedar menjadi permainan politik disaat pemilu
saja.
b. Kenakalan Remaja dan Perilaku yang Menyimpang
Secara psikologis pelajar adalah masa transisi dari remaja menuju
kedewasaan dimana didalamnya terjadi gejolak-gejolak batin dan luapan ekspresi
kretivitas yang sagat tinggi. Jika lupan-luapan dan pencarian jati diri ini
tidak terpenuhi maka mereka akan cenderung mengekspresikanya dalam bentuk
kekecewaan-kekecawaan dalam bentuk negatif. Sarana pendidikan yang dimaksud
disini, bukan hanya laboratorium, perpustakaan, ataupun peralatan
edukatif saja, tetapi juga sarana-sarana olahraga ataupun kesenian untuk mengekspresikan
diri mereka. Kehidupan remaja diera modern ini tentulah berbeda dengan
kehidupan pada generasi sebelumnya, pelajar saat ini membutuhkan ruang
gerak dalam pengembangaan kematangan emosi misalanya saja grup band, sepak
bola, basket, otimotif dan sebagainya. Jika hal ini tidak dipenuhi ataupun
dihambat maka akan cenderung membuat perkumpulan-perkumpulaan yang cenderung
menyalahi norma. Di indonesia sendiri masih banyak sekolah ataupun kampus yang
tidak memiliki sarana penyaluran emosi ini.
3.3
Evaluasi terhadap pembelajaran dalam
program studi sejarah menurut taksonomi Bloom.
Evaluasi terhadap pembelajaran dalam program studi
sejarah memang harus diadakan evaluasi, agar pembelajaran yang berlangsung
selanjutnya bisa meningkatkan kualitas belajar mahasiswa yang berpengaruh besar
tehadap hasil belajar.
Berikut beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pembelajaran sejarah dewasa kini:
(1)
Pembelajaran berpusat pada
penguasaan konsep atau hafalan.
(2)
Pembelajaran yang berlangsung
cenderung tidak melibatkan pengembangan pengetahuan, karena pendidik selalu
mendominasi pembelajaran meskipun ada pembaruan kurikulum.
(3)
Pembelajaran masih bersifat
informatif, kurang mengembangkan aspek, nilai, sikap, dan ketrampilan.
(4)
Materi pelajaran yang disajikan
kurang berkaitan langsung dengan
kehidupan sehari-hari dan bersifat problematik.
(5)
Jumlah guru sejarah yang tidak
mencukupi dengan jumlah jam atau kelas yang tersedia.
(6)
Kinerja guru sejarah yang umumnya
masih rendah.
(7)
Latar belakang guru sejarah yang
tidak sesuai dengan bidang yang diajarkan.
Ada beberapa
hal yang dapat kita lakukan dalam memperbaiki anomali-anomali pendidikan ini
antara lain:
-
terorganisirnya
koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga
daerah terpencil sekalipun sehingga tidak terputusnya komunikasi antara
pemerintah pusat dengan daerah.
-
Dengan adanya koordinasi pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah maka selanjutnya kita dapat meningkatkan Sarana dan Prasarana
Pendidikan. Adapun sarana dan prasarana pendidikan yang digunakan dalam
rangka meningkatkan output pendidikan tentunya kita harus menaikan cost (harga),
menaikkan harga disini maksudnya adalah meningkatkan sarana dan prasarana
penunjang pendidikan. Adapun sarana tersebut meliputi sarana fisik dan non
fisik.
1) Sarana fisik
Pemenuhan sarana fisik sekolahan ini meliputi pembanguan gedung sekolahan, laboratorium,
perpustakaan, sarana-sarana olah raga, alat-alat kesenian dan fasilitas
pendukung lainnya. Dalam hal ini tentunya pemerintah memegang tanggung jawab
yang besar dalam pemenuhan ini, karena pemerintah berkepentingan dalam
memajukan pembangunan nasiaonal. Jika sarana belajar ini telah terpenuhi
tentunya akan semakin memudahkan transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
2) Sarana
non fisik
Sarana non fisik ini diibaratkan software dalam komputer, jika software ini
dapat mengoprasikan perangkat komputer dengan baik maka pekerjaan akan cepat
selesai. Begitu juga dalam pendidikan jika sistem dan pengajarnya bermutu maka
akan mempercepat pembangunan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Peningkatan
kualitas dosen
Kualitas dosen harus ditekankan demi berjalannya pendidikan itu sendiri,
tugas dosen adalah merangsang kreativitas dan memberi pengajaran secara
fleksibel, artinya berkedudukan seperti mahamahasiswa yang belajar tidak ada
patron client. Peningkatan mutu ini bukan hanya pada intelektual dosen saja,
melainkan juga mengembangkan psikologis dosen itu sendiri misalnya dengan
memahami karakteristik mahamahasiswa, psikologi perkembangan dan
sebagainya.Dengan adanya peningkatan ini tentunnya akan berdampak pada
membaiknya output pendidikan. Dikarenakan dosen dapat menempatkan dirinya
sebagaimana mestinya dan bersifat fleksibel. Kenakalan remaja biasanya terjadi
justru karena prilaku dosen itu sendiri misalnya melakukan hukuman fisik kepada
mahamahasiswa ataupun penekanan psikologis.
b. Pembentukan
lembaga studi mandiri
Pembentukan lembaga studi mandiri ini berfungsi sebagai wadah pengembangan
kpribadian mahasiswa.Jika lembaga studi ini dapat dibentuk tentunnya akan
memperbaiki kualitas fakultas maupun menambah pengalaman mahamahasiswa.
BAB 4. PENUTUP
4.1
Simpulan
Dalam proses belajar mengajar terdapat teori-teori belajar yang telah
diterapkan oleh para pendidik dalam sebuah kelas. Begitupun dalam kelas yang
berlangsung dalam pendidikan sejarah, di era modern yang selalu berkembang
pesat seringkali dijumpai paradigma-paradigma baru dalam teori belajar. Yang
diterapkan dalam pendidikan sejarah tidak hanya teori belajar behaviorisme tapi
juga dalam perkembangannya juga diterapkan teori kontruktivisme dan yang
digunakan yaitu metode pembelajaran diskusi, yang mana hapmpir seluruh mata
kuliah mengharuskan mahasiswa berdiskusi secara aktif.
Mutu sarana dan prasarana pendidikan
masih sangat bervariasi. Hal ini dapat kita lihat dilingkungan kita dimana
masih banyak sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi yang keadaan gedungnya
tidak aman dan kurang memadai untuk digunakan melaksanakan proses belajar
mengajar. Sering juga dijumpai bahwa lahan/tanah bukan milik sendiri atau dinas
pendidikan; letaknya yang kurang memenuhi persyaratan lancarnya proses
pendidikan misalnya letak sekolah berada di tempat yang ramai, terpencil,
kumuh, dan lain-lain; perabotan berkenaan dengan sarana yang kurang memadai
bagi pelaksanaan proses pendidikan misalnya meja/kursi yang kurang layak
digunakan, alat peraga yang tidak lengkap, buku-buku paket yang kurang memadai,
dan lain-lain.
Evaluasi yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran yaitu pemenuhan sarana fisik yang meliputi pembangunan gedung,
laboratorium, perpustakaan, sarana-sarana olah raga, alat-alat kesenian dan
fasilitas pendukung lainnya tiap fakultas atau program studi. Dan juga
pemenuhan sarana non fisik yang diibaratkan software dalam komputer, jika
software ini dapat mengoprasikan perangkat komputer dengan baik maka pekerjaan
akan cepat selesai. Begitu juga dalam pendidikan jika sistem dan pengajarnya
bermutu maka akan mempercepat pembangunan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Soeranto. 2015. Teori Belajar dan
Pembelajaran Kotemprer. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo.
http://visiuniversal.blogspot.com/2014/03/pengertian-belajar-dan-macam-macam.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom
http://www.slideshare.net/tentotens/2006-taksonomi-bloomdanalatevaluasi